Menyingkapi Keterpurukan

Kegagalan, apalagi jika kegagalan itu adalah keterpurukan hingga di titik terbawah, seringkali kita sikapi sebagai malapetaka, sebagai akhir segalanya. Keterpurukan di titik nol seringkali menjadikan kita ciut hati, undermotivated, dan berat memulai lagi dari bawah. Akibatnya, keterpurukan menjadikan kita makin terpuruk. Kita kian terjebak dalam pusaran keterpurukan.

Tapi kenapa kita tidak berpikir sebaliknya? Kenapa kita tidak menjadikan posisi terpuruk di titik nol sebagai sebuah energi luar biasa untuk bangkit. Kenapa kita tidak menjadikan keterpurukan di titik nol sebagai sinyal bahwa kita harus membangun sense of crisis, sinyal untuk mengetatkan ikat pinggang. Kenapa keterpurukan di titik nol tidak menjadikan kita ringan melenggang menggapai capapian-capaian luar biasa di depan. Kenapa keterpurukan di titik nol tidak kita jadikan momentum untuk change the world.

Saya melihat keterpurukan di titik nol adalah “harta karun” bagi kesuksesan kita karena ia menyimpan begitu banyak pelajaran, keutamaan, dan wisdom luar biasa. Karena itu, bahkan ketika kita tidak sedang terpuruk, kita harus menciptakan mindset keterpurukan di titik nol agar kita tidak ponggah, tidak sombong, tidak sok tahu, tidak malas, tidak terjebak di zona nyaman. (Yuswohadi, Leadership)

Avicenna Fathan El Farsy


Alhamdulillahhi rabbil 'alamin
... segala puji hanya untuk-Mu ya Allah...

Barokallohu laka fil mauhub laka wa syakartal wahib wa balagho asysyudahu wa ruziqta birrohu...
Semoga Allah SWT memberikan keberkahan untuk dirimu atas karunia yang diberikan kepadamu. Semoga engkau mensyukuri Yang Maha Memberi anak menjadi dewasa dan menjadi anak yang berbakti... Amin.
Hari Jum'at, 08 Dzul Hijjah 1432 H (04 Nopember 2011) tepat pukul 10.18 WIB lahir ke dunia anak ketigaku, lagi-lagi seorang pria mungil dengan bobot lahir 4 kg dan tinggi badan 51 cm melalui persalinan normal:
"Avicenna Fathan El Farsy"
Dilahirkan di ruang bersalin RSIA Assalam, Bogor, Jawa Barat. Proses persalinan berjalan lancar dengan dibantu oleh dr. Ibnu Mas'ud, Sp.OG, dua orang perawat dan tentunya saya sendiri yang berada di sebelah istri saya.
Terima kasih ya Allah atas limpahan nikmat-Mu yang tiada tara ini. Terima kasih untuk kedua orang tuaku, saudara-saudaraku, teman-temanku dan siswa-siswiku atas doa-doa antum semua, atas kunjungannya selama kami sekeluarga di rumah sakit maupun ketika kami sudah di rumah. Jazakumullahu khoiron katsiro...

Copyright © / NU YAHE

Modified by : Yahe! / With the help of urang-kurai