
Seperti malam-malam sebelumnya, sehabis sholat isya saya biasa 'nongkrong' di taman mungil di belakang rumah. Bagi saya, taman seluas 3x4m itu adalah tempat yang nyaman untuk termenung. Kecuali anak dan istri saya, tidak ada orang lain yang dapat melihat saya karena dikedua sisinya dipasangi batako setinggi 3m. Ditemani gemericik air dari water fall dipojokkan taman, rokok mild dan segelas teh celup manis menambah suasana permenungan semakin dalam.
Baru tiga hisapan rokok, tiba-tiba sehelai daun berwarna coklat jatuh padahal tidak ada angin yang menerpa pohon itu. Hanya lantaran daun itu jatuh, pikiran saya jadi menerawang jauh. Kenapa jatuh? Pastinya karena daun itu sudah tidak lagi memiliki fungsi bagi pohon itu. Daun itu sudah tidak lagi memiliki zat hijau daun (Chlorophyll) yang fungsinnya sebagai penangkap energi dari cahaya matahari melalui fotosintesis untuk kelangsungan hidup pohon itu.
Peristiwa jatuhnya daun itu memunculkan asosiasi dalam pikiran saya pada fenomena kehidupan sehari-hari, baik yang terjadi di dalam organisasi, perusahaan atau lembaga masyarakat lainnya. Batang pohon adalah organisasi, perusahaan atau lembaga, sementara daun-daunnya sebagai anggotanya atau karyawannya.
Peristiwa alam itu telah mengajarkan pada saya bahwa bila seorang anggota dari suatu organisasi atau seorang karyawan dari suatu perusahaan bahkan pimpinannya sekalipun, apabila sudah tidak lagi memiliki fungsi bagi organisasi atau perusahaannya akan jatuh dengan sendirinya. Tidak perlu ada fitnah, tidak perlu ada demo, dan tidak perlu ada kudeta dalam upaya menjatuhkan seseorang karena hukum alam mengajarkan ia akan jatuh dengan sendirinya.
Peristiwa alam itu juga memberikan pemahaman pada saya bahwa daun jelas berbeda dengan manusia. Daun tidak mampu memelihara kehijauanya, daun tidak memiliki kuasa menjaga fungsinya. Lain halnya dengan manusia, ia mampu meng-update dirinya, ia memiliki kuasa untuk meng-upgrade dirinya dengan pengetahuan baru agar fungsinya dalam organisasi atau perusahaan tetap terpelihara dan terjaga supaya tidak lekas jatuh.
Ah, tidak terasa waktu sudah menunjukkan jam 23.00, rokok sudah entah berapa batang dihabiskan dan segelas teh celup manis sudah tinggal tehnya menggelantung di gelas. Saatnya memejamkan mata. Sebelum beranjak aku masih sempatkan diri untuk melihat daun berwarna coklat itu terkapar di tanah tidak berdaya dan besok istri saya akan membuangnya ke tempat sampah.
Morning sick sering kali terjadi ketika usia kehamilan menjelang dua sampai tiga bulan. Gejala morning sick biasanya adalah mual dan muntah-muntah yang terjadi pada saat pagi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh dua orang ahli biologi Amerika, Samuel M Flaxman dan Paul W Sherman mengatakan "Morning sick merupakan hal yang positif".
Bagaimana dengan yang terjadi pada istriku? Mual dan muntah-muntahnya tidak terjadi saat pagi. Pagi hari justru adalah saat-saat dimana semangat berkarirnya sangat tinggi. Wonder woman jelas terlihat. Jam 6.30 WIB dia sudah berangkat bekerja dengan mengendarai motor sendiri. Tidak terlihat adanya depresi atau tertekan sebagaimana dirasakan oleh wanita hamil muda umumnya. Mual dan muntah-muntahnya justru terjadi pada sore hari. Sepulang kerja sekitar jam 16.00WIB, istriku mulai dengan aktifitas "owek-owek"-nya.
Ketidaklajiman ini jelas membuatku penasaran untuk mencari tahu. Di kantor, saat jam istirahat, kucoba surfing ke beberapa situs kesehatan untuk memuaskan rasa penasaranku. Setelah jumping kesana-kemari , akhirnya aku berlabuh di situs infowanita.com. Artikel yang dimuatnya, Morning Sick---Is it a Good Thing?, bisa mengobati penasaranku. Artikel itu mengatakan, "Istilah morning sick sangat tidak cocok digunakan" kata Profesor Sherman."Morning sick adalah sebuah mekanisme untuk melindungi ibu dan janinnya, dan morning sick tidak selalu terjadi pada saat pagi, tapi terjadi kapan saja "kata Sherman.
Kaget mendengar apa yang dikatakan anakku Raffi, usia 3 tahun, semalam. "Allah itu jahat, pah!" Astagfirullah, darimana dia mendapat kata-kata itu? Apa alasan dia berkata seperti itu? Penasaran dengan ucapannya, langsung aku cari tahu.
"Sayang, kenapa Raffi bilang begitu?" Sambil menatap tajam dan ngomongnya yang masih cadel, anakku menjawab "Kemalin Afi kan gak mao mandi pah, tlus kata N'da, Afi nakal. Alloh benci ama anak nakal. Nanti Alloh malah. Tlus tadi pagi Afi ga mao makan, Mbah juga ngomong, klo ga mau makan, itu namanya anak nakal nanti dimalahin Alloh. Belalti Alloh malah-malah mulu ya pah? Olang suka malah-malah kan jahat, iya kan pah?" Hem, itu toh alasannya. Bingung juga menjawab pertanyaannya. Kalaupun dijawab dengan pengetahuan spiritual, toh anakku belum mampu mencerna. Akhirnya hanya kupanjatkan permohonan ampun pada Allah atas kesalahan kami sebagai orang tua dalam pemberian pemahaman konsep Allah pada anakku.