 |
| Pintu Masuk |
|
 |
| Teras Depan |
|
 |
| Tampak Depan |
Bagi kebanyakan orang, memiliki rumah adalah suatu impian yang sudah ada dalam benak mereka sejak jauh-jauh hari. Begitu juga aku, sebelum menikah, bersama calon istri tersayang mencoba
hunting ke beberapa pengembang perumahan yang dekat dengan tempat kerjaku. Sayang, dari semua pengembang yang aku singgahi selalu berakhir dengan dilematis, harganya cocok tapi typenya tidak; typenya cocok, harganya ....
hmm jauh di luar
budget. Lantas, maunya apa?
Sebenarnya rumah impianku tidak muluk-muluk yang penting nyaman untuk ditempati dan sesuai dengan kemampuan
financialku. Rumah yang nyaman itu tidak harus unik, apalagi mewah dan berlokasi di tepi pantai. Rumah yang nyaman bagiku adalah rumah yang meskipun minimalis tapi asri, dapat menyatukan aku dengan alam, di depan dan di belakang rumah ada taman mungil yang dipenuhi aneka tanaman dan gemericik
water fall yang menyejukkan. Pokoknya, rumah itu bisa membuat aku dan keluarga sehat secara fisik maupun psikis.
Alhamdulillah, impian itu akhirnya terkabul saat aku sudah menikah, meskipun belum tuntas 100%. Konsepku tentang rumah yang nyaman, aku upayakan untuk terealisasi di atas tanah seluas 7 x 14 meter, lokasinya pun tidak di komplek perumahan tapi di tengah-tengah perkampungan. Mengingat luas tanahnya yang minimalis, aku membangun rumah itu dua lantai. Kini aku merasa nyaman menempati rumah impianku karena selain cocok typenya, cocok juga harganya.
 |
| Teras Depan |
|
 |
| Taman Belakang |
|