“Pak, boleh ga nanya?”, demikian tanya seorang siswa yang mengejar saya di pelataran sekolah. Saya pun kontan menjawab, “why not, what do you want to know?”.“Beuuuh…mentang-mentang guru Bahasa Inggris, jangan pake bahasa Inggris ah, saya gak ngerti”. Saya hanya tersenyum mendengar kepolosannya. “Emang ada apa sih?” tanya saya kemudian. “Gini pak, Sorry nih yah!” “Loh katanya ga mau ngomong Bahasa Inggris, emang sorry bahasa Jawa?” canda saya sambil tertawa. “Iya….ya…maaf…maaf”, timpalnya sambil juga tertawa.
Sebenarnya ada apa sih, mau nanya pake minta maaf segala bikin penasaran aja, pikir saya. “Cepet deh mo nanya apa?” Dengan serius dia berkata, “Saya perhatiin, Bapak kok bisa deket sama cewek-cewek cakep sih, rahasianya apa sih pak?” “Kasih tau dong pak!” Ya ampun, dia ngejar-ngejar saya hanya untuk menanyakan hal itu. “Cewek-cewek mana?” saya balik nanya. “Itu loh pak, murid-murid Bapak!” “Pokoknya setiap ada murid cewek yang cakep pasti deketin Bapak.” Mendengar ucapannya, saya mulai risih karena saya sendiri merasa ke semua murid saya dekat, baik laki-laki mapun perempuan. Mereka adalah sahabat mungil saya. Bahkan, saking deketnya terkadang saya ngomongnya pake lo….gw dengan mereka. “Oke deh, lebih baik kita ngobrolnya di ruangan saya aja ya?”, ajak saya. Dia pun langsung berjalan di belakang saya.
Sesampainya di ruangan, saya menyuruhnya duduk di depan meja kerja saya sehingga kami bisa duduk saling berhadapan. Ruangan yang luasnya 3x 8m ini kebetulan hanya saya sendiri yang menempati. . “Mau minum gak?, tuh disamping dispenser ada gelas bersih, ambil aja!” “Makasih pak, saya gak haus”. “Bapak mau minum? Saya ambilin ya!”, malah dia balik menawari saya. “Ya udah ambil sana!”. Air yang dia ambil langsung saya minum. Masalahnya, saya memang bener-bener haus karena di kelas tadi saya banyak menerangkan materi baru. “Ayo dong pak, apa rahasianya?”. “Saya juga pengen seperti Bapak kan!”, dia terus mendesak mengharapkan saya segera menjawabnya. Lucunya, dia juga mengatakan, “Kalo saya harus puasa, saya puasain deh pak!”. Ya ampun, apa yang ada dipikiran anak ini, pikir saya.
Kemudian saya menghampiri dia, duduk disampingnya sambil saya pegang pundaknya. “Denger, saya gak punya rahasia apa-apa, lagian apa alasan kamu sampai berpendapat cuma cewek-cewek cakep yang dekat dengan saya?”. “Saya kan sering liat pak. Kalo jam-jam istirahat cewek-cewek itu kumpulnya diruangan Bapak. Pas jam pulang, mereka gak langsung pulang tapi malah nongkrong dulu disini, ya kan pak?”. Oh, itu toh alasannya. “Kamu tahu, selama mereka berada di ruangan ini, saya lebih banyak diam. Saya lebih banyak mendengar segala macam cerita yang mereka katakan. Mulai dari cerita pacar sampai ke cerewetnya orang tua mereka masing-masing. Saya hanya teman curhat mereka.
“Kamu lihat lampu neon itu?”, tanya saya kemudian. Dia terlihat bingung dan bertanya, “Apa hubungannya pak?”. “Saya cuma tanya, liat ngak lampu itu?” “Iya, saya liat”, jawabnya terpaksa. “Saat lampu itu mati, tidak ada seekor seranggapun menghapirinya. Kenapa? karena lampu itu tidak memancarkan cahaya. Pernah kamu lihat lampu neon di malam hari? Pernah kamu lihat lampu yang menyala itu banyak dikerumuni berbagai macam serangga?”, dia tidak menjawab pertanyaan saya, kepalanya hanya mengangguk-ngangguk. Padahal, lampu itu tidak pernah berteriak-teriak memanggil serangga, “Wahai, para serangga mendekatlah padaku, peluklah aku!” Pernah kamu dengar lampu neon ngomong kayak gitu?” lagi-lagi dia tidak menjawab pertanyaan saya, dia malah tertawa ngakak. Serangga itu datang dengan sendirinya karena mereka suka dengan cahaya lampu itu."
"Oleh karena itu, jadikan dirimu bercahaya seperti lampu neon itu, pasti para serangga akan banyak mendekatimu. Kepandaian, kekayaan, kejujuran, kepedulian, keramahan, kesehatan, dan hal-hal yang positif lainya, itulah cahaya yang kamu harus pancarkan. Kalau salah satu cahaya itu saja kamu miliki, niscaya wanita, harta dan tahta akan datang dengan sendirinya. Kamu harus yakini itu."
Sayang, cerita lampu neon pun harus dihentikan karena bel masuk berbunyi. Siswa saya pun pamit untuk masuk ke kelasnya. Sebelum keluar dari ruangan saya, dia hanya mengatakan, “Terima kasih, pak!”